Tanggal 21 Mei 2008 besok genap sudah sepuluh tahun usia gerakan Reformasi yang terjadi pada tahun 1998 di Indonesia. Sebuah renungan kita bersama dalam perjalanan panjang dari masa-masa Era kerajaan dinusantara dulu, masa Republik dan masa menjelang Reformasi. Sejarah pergantian kekuasaan adanya saling menegasikan dari kerusakan menuju perbaikan dan dari yang usang menjadi yang segar dan berhari depan. Pertanyaannya, apakah induk perubahan itu akan selalu diwarnai dengan adanya aksi kekerasan dan kekacauan sosial yang menimbulkan banyak korban harta, benda dan nyawa di kalangan rakyat sipil yang tak berdosa.
Adalah Kolaborasi dari status Quo kekuasaan dan pelaku bidang ekonomi makro yang sangat berperan akan terjadinya ancaman keamanan, dengan cara mengunakan alat kekuatan kekuasaan dan uang. Mereka dapat membeli kesadaran-kesadaran bodoh dari para budak-budak yang tidak memiliki hati untuk dipersiapkan menjadi pembela dan mempertahankan si Tuan-tuan jahat untuk kelanggengan kekuasaan dan Perusahaan yang sudah puluhan tahun menjadi musuh-musuh rakyat baik di pedesaan dan perkotaan.
Mahasiswa, Pemuda/i, Profesional perkotaan, Pekerja Seni, Lembaga Swadaya Masyarakat dan kaum proletariat merupakan golongan-golongan yang menginginkan terjadinya perubahan dengan tugas sejarah membidani lahirnya Reformasi 1998.
Selama 32 tahun pemerintahan Rezim Orde Baru telah melakukan pengkhianatan terhadap nilai-nilai Demokrasi dan HAM, ibarat satu buah koin mata uang logam dengan diibaratkan satu sisi kondisi rakyat yang semakin terperosok kedalam jurang kemiskinan yang terdalam. Sementara satu sisi lainnya, sekelompok/segelintir orang sangat diuntungkan dan menikmati kemapanan dengan kentalnya unsur KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme).
Masalah yang ada tak lepas dari pola pemerintahan yang sangat ketergantungan dengan hutang terhadap dunia barat dan Kelompok-kelompok Imperialisme Modern, sehingga kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia sangat dipengaruhi oleh pesanan-pesanan yang bertujuan untuk melangengkan kepentingan kelompok-kelompok Imperialisme global. Lihat dan rasakanlah kebijakan-kebijakan dan keputusan yang sangat manipulatif yang terus-menerus membebani rakyat di seluruh Indonesia. bidang-bidang pelayanan untuk rakyat yang seharusnya menjadi kewajiban/tanggung jawab negara telah diarahkan untuk menjadi swastanisasi.
Ironisnya dari dosa-dosa pemerintahan masa lalu, sampai hari ini rakyat Indonesia harus bertanggung jawab dengan menanggung beban hutang negara. Padahal kenyataannya rakyat tidak pernah merasakan dampak manfaat dari hutang pemerintahan ke IMF, World Bank dll.
Tahun 1997 terjadi krisis moneter di beberapa negara Asia dan Indonesia. Sebagai penerima dampak yang paling berat dari krisis itu, Jutaan orang kehilangan pekerjaan, dikarenakan usaha-usaha kecil dan menengah harus gulung tikar disertai dengan naiknya harga-harga kebutuhan pokok dan BBM. Terbukti pemerintahan yang kala itu dipimpin oleh Presiden Soeharto tidak mampu mengatasi untuk keluar dari masalah yang mendasar dari persoalan rakyat.
Pada tahun 1998 dari akumulasi kekecewaan rakyat yang tak dapat dibendung lagi, dengan dipelopori kepemimpinan kelas menengah, terjadilah gerakan reformasi yang mana jutaan orang di seluruh Indonesia turun kejalan dengan satu tujuan menumbangkan pemerintahan Soeharto.
Baru kita sadari ternyata musuh kita bersama bukan hanya Soeharto dan antek-anteknya saja, namun ada sebuah peninggalan sistem yang sangat berbahaya dan sudah mengakar menjadi budayaisme, kelompok kontra reformasi itu sekarang pura-pura reformis (Overtunis), namun yang sebenarnya masih berwatak Orde Baruisme, mereka masih mendominasi dan sangat sukar diajak menuju pembaharuan dalam paket perubahan untuk cita-cita kesejahteraan rakyat.
Sudah empat kali terjadi pergantian Presiden di Republik Indonesia kita yang tercinta ini setelah jatuhnya Suharto, kenyataannya dari tiap-tiap rezim yang berkuasa belum dapat membawa perubahan untuk rakyat, selalu dari tiap rezim membuat kesengsaraan-kesengsaraan baru untuk rakyat kecil dengan melahirkan kebijakan menaikan harga-harga kebutuhan pokok dan BBM dengan alasan klasik harga minyak di pasaran dunia mencapai harga tinggi.
Negara kita sebagai negara penghasil minyak premium dan gas yang sangat diperhitungkan di pasar dunia, mengapa tak mampu mencukupi kebutuhan rakyatnya? ini sebuah pertanda bahwa ada masalah dalam pengelolaan sumber minyak dan gas di negeri ini, ditambah belum ada keberpihakan yang serius dari pemerintahan pusat dan daerah untuk melindunggi rakyat dari ancaman kemiskinan dan pemenuhan untuk mendapatkan Hak atas pekerjaan, Hak normatif buruh, Hak untuk mendapatkan standart kehidupan yang layak, Hak mendapatkan wajib belajar tingkat dasar dan Hak atas kehidupan budaya dan ilmu pengetahuan seperti yang tertuang dalam UU No. 11 Tahun 2005 tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (Ecosob).
Pemerintah seharusnya dapat menjamin, meyakini, mengakui, menghormati atau memberikan penghormatan, berusaha dan meningkatkan dari ketentuan yang ada di UU Ecososob.
Bulan Mei tahun 2008 ini, pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan Jusuf Kala (JK) secara resmi telah mengumumkan tentang rencana kenaikan harga BBM dengan alasan klasik yang sama seperti pemerintahan sebelumnya. Bukankah kebijakan ini akan menyengsarakan rakyat kembali? Lagi-lagi kebijakan yang dibuat sangat menyesatkan dan menyengsarakan rakyat.
Kepada kawan-kawan Pro-demokrasi, elemen sipil dan rakyat miskin di seluruh Indonesia, selamat memperingati sepuluh tahun reformasi dan selamat atas pemberian hadiah manis dari pemerintahan SBY-JK atas kenaikan harga BBM.
Semoga kita dapat bersama-sama untuk tidak diam ketika melihat dan mendengar lahirnya kebijakan-kebijakan yang akan menyengsarakan rakyat kembali, dengan bersama kita pasti dapat berbuat, sekecil apapun pasti ada yang dapat kita lakukan untuk menolak rencana kenaikan BBM.
Penulis : Sugiono atau Iik
Para Legal LBH Banda Aceh Pos langsa
Alamat : Desa Alur Cucur, Kec Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang
E-mail : sogi_iik@yahoo.co.id
Ditulis oleh juanda
Ditulis oleh juanda
Ditulis oleh juanda 







